Kajian Bencana Pencemaran di Teluk Bima

BANDUNG,- Pada tanggal 24-30 April 2022 sebuah fenomena pencemaran laut yang dari kejauhan nampak seperti gurun pasir dengan luas lebih dari 10 Ha timbul di Teluk Bima, Nusa Tenggara Barat. Pada Kamis, 28 April 2022, tim dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan melakukan penelitian lapangan dengan pengambilan sampel pada 5 titik. Pengambilan sampel ini juga dilakukan dengan koordinasi bersama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup ITB (PSLH ITB) dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Di lapangan, tim juga dibantu oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima dan Perwakilan dari Pemerintah Kota Bima. Karakteristik limbah berbau, berupa busa dan buih yang mengental, dengan tebal hingga 10 cm, berwarna kecoklatan serta nonflammable.

Hasil foto satelit yang diambil Tim ITB menunjukkan bahwa fenomena terjadi dalam kurun waktu pendek dan sudah tidak terlihat satu minggu dari puncak kejadian. Fenomena buih terjadi saat komponen air laut yang diganggu oleh angin dan ombak akan menimbulkan busa/buih. Buih dapat berwarna kecoklatan dan sering disebabkan oleh fitoplankton. Untuk memastikan kandungan buih ini perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap buihnya (scum/sludge) yang belum bisa dilakukan.

Sedangkan pengujian air laut pada 5 titik (3 garis pantai dan 2 sungai) menunjukkan hasil yang relatif konsisten. Pengujian lab memperlihatkan terdapatnya beberapa komponen yang melebihi baku mutu dan ditemukan alga golongan Diatom. Ditemukan juga kandungan toksisitas lebih besar pada air laut dibandingkan dengan air sungai.

Indikasi jenis pencemar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu limbah domestik (N, P, organik, dan coliform), pertanian dan perikanan (N dan P), dan kandungan oil (TPH, toluene, serta oil and grease). Selain jenis pencemar tersebut, fenomena ini bisa dipengaruhi oleh geografis Teluk Bima dan global warming. Riset skala global mengenai pencemaran algae blooming di berbagai negara juga menunjukkan bahwa 76% dari kejadian ini algae blooming/seasnot terjadi di area semi enclosed sea (laut yang setengah tertutup), sehingga Teluk Bima memang rentan berpotensi mengalami fenomena tersebut.

Dari data yang ada saat ini, pengamatan kami bahwa fenomena Teluk Bima disebabkan oleh kegiatan multi sektoral. Hal ini telah terjadi di berbagai belahan dunia lain di dunia, baik itu Washington, Belanda ataupun Turki, dengan adanya lokalitas yang membedakan sumber pencemaran sehingga memberikan efek yang berbeda.

Narasumber:
Prof. Dr. Ing. Ir. Prayatni Soewondo, M.S.
Pakar dari Rekayasa Air dan Limbah Cair,
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB

Drs. Dasrul, M.M., M.E., M.H.
Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut.
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Narahubung:
Prasanti Widyasih Sarli, S.T., M.T., Ph.D.
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
prasanti.wsarli@yahoo.com, pw.sarli@itb.ac.id

Pusat & Pusat Penelitian